Universitas Gunadarma

Senin, 02 Januari 2012

Tulisan Ilmiah Populer


Bahaya Pewarna Pakaian Pada makanan
“ini neng ada kue cucur, cakep banget dah warnanya, merah nyala tuh. . . .” seorang ibu-ibu menawarkan kue cucur ke tetangganya. Sebelumnya pagi tadi ibu-ibu itu membeli ‘sepuhan’ biasa orang menyebut pewarna pakaian. Bukan salah lagi sepuhan tadi digunakan untuk membuat kue cucur, karena setelah ditanyakan ‘untuk apa sepuhan itu?’, ibu-ibu tadi menyebut untuk membuat kue cucur.
Hal ini ironis namun sudah terbiasa dikalangan masyarakat awam. ‘yang penting tampilannya bagus’. Begitulah komentar mereka yang menggunakan pewarna pakaian untuk makanan. Padahal zat yang terkandung di dalam pewarna tersebut, sangatlah berbahaya. Zat kimia pembentuk warna tekstil dapat mengendap karena sulit dicerna oleh tubuh. Sehingga jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama, akan memberatkan proses kerja hati. Dengan kata lain menurunkan fungsi hati hingga menyebabkan kanker.
Awamnya masyarakat terhadap bahaya pewarna tekstil menjadi salah satu factor nomor satu dalam penggunaannya. Bagi para pedagang nakal, pewarna tekstil dipilih karena harga yang jauh lebih murah dan hasilnya lebih kuat atau lebih menarik dalam segi tampilannya. Sudah sering sosialisasi di gembar-gemborkan untuk menekan penggunaan pewarna tekstil pada makanan, namun kesadaran para pemakai yang masih kurang ditanggapi dengan baik.
Padahal  ramuan tradisional sudah sangat popular digunakan dari zaman dahulu. Seperti kunyit, daun ketapang atau yang lainnya. Namun tetap saja orang-orang enggan menggunakannya dengan alasan ‘repot mengolahnya’.
Sebagai manusia yang telah mengerti dan sadar akan bahaya pewarna tekstil untuk dimakan, sudah sepantasnya kita menjauhkan diri dari penyebab penyakit seperti disebutkan tadi. Mengingatkan kepada sesama serta terus melanjutkan pola hidup sehat. Mulai dari hal kecil seperti makanan yang kita makan setiap hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar